Eskalasi pandemi Corona di Indonesia memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Ratusan ribu pekerja terancam kehilangan mata pencaharian.

“Sebagian perusahaan menjadi tidak layak beraktifitas dan berproduksi karena permintaan yang memang anjlok. Terutama perusahaan retail besar yang biasanya ada di mall-mall, PT besar dan sebagainya hampir pasti tidak pengujungnya anjlok karena himbauan pemerintah,” ujar Pengamat Ekonomi Economic Action Indonesia (EconAct) Ronny P Sasmita.

Sebuah video viral di jagat maya, memperlihatkan puluhan karyawan departemen store Ramayana di Depok, Jawa Barat menangis. Dengan air mata bercucuran, mereka berpelukan satu sama lain, saling menguatkan di tengah kondisi yang tak terduga.

Manajemen Ramayana mengumumkan langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawannya. Gerai yang berlokasi di City Plaza Depok, tidak lagi beroperasi sejak 6 April 2020.

Wabah COVID-19 yang dipicu virus corona menjadi biang keladi, omzet penjualan menurun hingga 80 persen. Akibatnya, perusahaan tak mampu lagi menanggung semua biaya operasional gerai.

“Bukan hanya masalah penggajian karyawan, tapi semuanya,” ujar Store Manager City Plaza Depok, M Nukmal Amdar. Para pekerja selanjutnya akan menerima pesangon sesuai dengan haknya masing-masing.

Baca juga : Setiap Peserta Dapat 3.5 juta – Ingin Daftar Kartu Prakerja? Buruan ini 3 Langkahnya!

Baca juga : Jokowi: Kartu Pra Kerja Mulai Dibagikan Tanggal 9 April Rp 3.5 Juta Setiap Peserta

Baru-baru ini juga Pandemi virus Corona atau Covid-19, berdampak pada nasib 3.042 buruh dan pekerja di Kota Tangerang yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Kota Tangerang.

Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah mengatakan, jumlah tersebut belum termasuk yang dirumahkan sebanyak 651 karyawan. “Jadi totalnya ada 3.693,” katanya

Arief juga mengatakan, sudah ada 53 perusahaan yang terdampak lesunya perekonomian akibat Covid-19 yang sudah melapor ke Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang.

Ancaman  (PHK) tak hanya membayangi para pekerja di Indonesia. Sejatinya, kondisi serupa terjadi di negara lain. Hal ini dipicu melesunya kegiatan ekonomi akibat pandemi Virus Corona (Covid-19) yang terjadi sejak awal 2020.

Badai resesi terbayang di depan mata, meski pandemi COVID-19 tak diketahui kapan akan berlalu. Organisasi Buruh Internasional (ILO) melaporkan, 81 persen dari tenaga kerja global yang berjumlah 3,3 miliar, atau 2,67 miliar saat ini terkena dampak penutupan tempat kerja.

“Para pekerja dan dunia usaha sedang menghadapi bencana, baik di perekonomian maju dan berkembang,” ujar Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder, dalam keterangan resminya.

ILO memperkirakan, krisis virus corona pada kuartal II 2020 dapat mengurangi 6,7 persen jam kerja di tingkat global, atau setara dengan 195 juta pekerja penuh waktu.

Bahkan menurut ILO, wabah virus corona merupakan krisis global terburuk sejak Perang Dunia II. “Ini merupakan ujian terbesar dalam kerja sama internasional selama lebih dari 75 tahun,” kata Ryder.

Berdasarkan studi terbaru ILO, sebanyak 1,25 miliar pekerja yang berada di sektor paling terdampak tersebut berisiko terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengurangan upah serta jam kerja.

“Banyak dari mereka berada dalam pekerjaan yang berupah rendah dan berketerampilan rendah, sehingga hilangnya pendapatan secara mendadak menghancurkan kehidupan mereka,” ungkap Ryder.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here