Nilai tukar rupiah saat ini terjun bebas hingga tembus Rp. 14.070, hal ini merupakan terburuk sejak tahun 2014 lalu. Saat ini nilai Rupiah tidak menunjukkan taringnya melawan penguatan mata uang Negara Amerika Serikat. Pada beberapa hari kedepan, diprediksi rupiah akan terus melemah.

Pada pembukaan Rabu (9/5/2018), rupiah kembali merosot di level Rp 14.070 per 1 dolar US dari penutupan pada hari sebelumnya di level Rp 14.036 per 1 dolar AS. Level ini sangat jauh dari asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yaitu Rp 13.400 per dolar US.

Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan lewat Kementerian Keuangan bahwa loyonya rupiah terhadap dolar US disebabkan oleh faktor eksternal. Salah satunya, akibat dari situasi pasar yang lagi menyesuaikan perubahan oleh kebijakan pemerintah Amerika Serikat.

Menjelang Puasa, Nilai Rupiah Tembus Rp 14.070 USD, Simak Dampaknya!

Namun, tahukah Anda apa dampak yang terjadi jika rupiah melemah terhadap dolar US? Simak terus artikel Menjelang Puasa, Nilai Rupiah Tembus Rp 14.700 USD, Simak Dampaknya!

1. Harga-harga Barang Impor Akan Naik

Efek yang paling mendasar terhadap melemahnya nilai rupiah ialah naiknya harga-harga barang impor. Adapun barang-barang impor yang dimaksud seperti elektronik, handphone, sembako impor dan lain-lain. Mau tidak mau penjual akan menaikkan harga barang dagangannya, agar tidak mengalami kerugian.

Selain importir, perusahaan fashion serta makanan yang menggunakan bahan baku dari luar negeri (import) juga bakal menaikkan harga produknya. Sehingga, hal ini membuat Anda berpikir kembali untuk membeli barang-barang impor agar pengeluaran anda tidak lebih besar dari pada pendapatan yang anda peroleh.

2. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Akan Naik

Jika nilai tukar rupiah melemah, bukan hanya barang-barang impor saja yang mengalami kenaikan harga, akan tetapi harga BBM juga akan ikut naik (tergantung kebijakan pemerintah).

Indonesia saat ini masih mengimpor minyak mentah 800 ribu barel minyak setiap harinya, atau setara dengan 50% dari kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia.

Dengan begitu, tidak ada pilihan lain, pemerintah dan perusahaan pengolah minyak seperti pertamina akan menaikkan harga BBM di tengah rupiah yang tembuh Rp 14.000 an per 1 dolar US.

3. Utang Negara Semakin Besar

Dengan kondisi rupiah yang tembus Rp 14.070, maka bisa dipastikan utang Negara Indonesia akan semakin besar dari sebelumnya, ditambah lagi dengan suku bunga yang diberikan oleh si pemberi pinjaman.

4. Suku Bunga Akan Menanjak

Pelemahan rupiah juga akan mengakibatkan Bank Indonesia menaikan suku bunga atau BI 7-day Reverse Repo Rate. Hal ini harus dilakukan untuk menjaga kestabilan rupiah yang kini telah tembus Rp 14.700. Saat ini BI 7-day Reverse Repo Rate belum mengalami perubahan atau bisa dikatakan tetap sebesar 4,25%. Untuk anda yang memiliki pinjaman di Bank maka bisa jadi utang anda akan semakin tinggi juga.

5. Kinerja Ekspor Bisa Membaik

Pelemahan rupiah tidak selamanya menjadi hal buruk untuk negara, karena di sisi lain, melemahnya rupiah juga bisa membuat para eksportir senang bahagia. Karena biasanya, mata uang dolar Amerika Serikat digunakan untuk bertransaksi ekspor.

Dengan begitu, jika di konversi ke rupiah sebesar Rp 14.070 ini akan membuat keuntungan bagi para eksportir Indonesia. Sehingga, kinerja ekspor Indonesia akan semakin membaik. Apalagi, kinerja ekspor kuartal I-2018 tumbuh 8,78 persen ataumencapai 44,26 miliar dollar AS.

Itulah beberapa dampak yang akan terjadi saat rupiah melemah hingga tembus Rp 14.070 per dolar US. Maka dari itu, Anda sebaiknya mulai mencari strategi agar tak terkena imbas dari hal tersebut. Salah satunya, adalah dengan cara menghemat dan berinvestasi.

Sumber: Sebagian bersumber dari cekaja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here